21.9.11

Delusi Rindu

Ini pagi sungguh pagi sebab kunangkunang telah bercahaya, ia mencahayai pikiranku yang cemas tentang beberapa rindu yang merambat diubunubunku, rindu periperi sawah yang selalu merentangkan tangannya menyambut kedatanganku "sayang lekaslah pulang " katanya pada koloni tikus yang datang padaku, sebab itu aku membunuhnya satusatu menghimpunnya menjadi jejas pada mataku biar esok aku tuntas menari pada petakpetak hitam putih memburu pionpion.

Ini petang sungguh petang sebab fajar telah datang, ia menyinari pikiranku yang cemas tentang beberapa rindu yang tumbuh diwajahku, ia serupa buih yang meletupletup berarakan, bercerita tentang Gandari yang menutup matanya, sebab kecuali aku ia tak ingin melihat siapasiapa lagi, sungguh!

Ini malam sungguh malam sebab Matahari begitu terik, ia mengangkat rindu satusatu, dari lembah, lalu sungai, lalu danau, lalu samudra, lalu aku yang berdegub, mencumbuinya di balik awan, lalu  menumpahkan titiktitik hujan pada bumi yang bergetar, yang  menumbuhkan rindu satusatu rindu yang kelak kembali akan merindukanku.



by Bhirau Wilaksono
on FB Sunday, June 5, 2011 at 5:26pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar