mengapa seperti ada yang hilang
ketika dedaun mulai berguguran
angin berhembus ke selatan
menebar aroma kerinduan
seketika jiwa meranggas
seperti pepohon yang mengering
di awal kemarau
mengapa seperti ada yang hilang
ketika malam mulai merambat
angin berhembus di sela jendela
menyelusup ke dalam kamar
seketika tidur terjaga
seperti mimpi bertemu peri
di awal purnama
mengapa seperti ada yang hilang
ketika dirimu tak menyapa
Ilham Halimsyah
Tampilkan postingan dengan label Puisi Impresionistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Impresionistik. Tampilkan semua postingan
27.10.11
8.10.11
keluhku di september
teman, sahabat, saudaraku,
duduklah di disampingku
kupinta beberapa waktumu
banyak kenangan yang ingin kubagi
sejak kemarin dada sudah sesak
tak tau membagi kisah bathin pada siapa
tentang kenangan pahit dan manis
yang terenda bersama
jangan beranjak dulu
aku belum memulai kisahnya
dengarkanlah dahulu sepenggal saja
lalu engkau tebarkan ceritaku
kupinta padamu
sudilah sejenak membenarkan kisahku
yang kuceritakan padamu
seutuh yang pernah kualami
tapi kumohon padamu
jangan engkau kisahkan peristiwaku padanya
aku takut air matanya tumpah
hingga kebahagiannya tanpaku sirna
by Uak Sena on
Monday, September 26, 2011 at 7:28pm
19.9.11
Ramadhan
Menyambutmu dengan derai air mata
bukan karena berat menerima
tapi dosa dan keangkuhanku membatu
sedang menjelangmu mesti bening melebihi bunga-bunga salju
Menyambutmu, begitu cemas
batinku gelisah, menjerit,.....menangis,
remuk di sudut malam, sepi,...sunyi
tanpa bintang, gelap,.....hampa !
Di sini, tanpa daya sekalipun
tangisku pecah, membentur lorong-lorong kota
lalu gema mengembalikannya,
sungguh tiada arti apa-apa
Ramadhan
maafkan aku, menyambutmu dengan air mata.
by Titipan Langit
Warkop Dg Te'na, 26 Juli 2011
bukan karena berat menerima
tapi dosa dan keangkuhanku membatu
sedang menjelangmu mesti bening melebihi bunga-bunga salju
Menyambutmu, begitu cemas
batinku gelisah, menjerit,.....menangis,
remuk di sudut malam, sepi,...sunyi
tanpa bintang, gelap,.....hampa !
Di sini, tanpa daya sekalipun
tangisku pecah, membentur lorong-lorong kota
lalu gema mengembalikannya,
sungguh tiada arti apa-apa
Ramadhan
maafkan aku, menyambutmu dengan air mata.
by Titipan Langit
Warkop Dg Te'na, 26 Juli 2011
17.9.11
Membaca Sutherland
'selamat malam'
bunyi musim nyaring
seperti sedang bernyanyi
tentang babak sunyi yang bakal panjang
'jangan tidur dulu'
bisik lampion pelan
seperti mengetahui mimpi
tentang kehidupan rindu yang berang
Tiza Fitrizia
Sutherland, 12.9.11
bunyi musim nyaring
seperti sedang bernyanyi
tentang babak sunyi yang bakal panjang
'jangan tidur dulu'
bisik lampion pelan
seperti mengetahui mimpi
tentang kehidupan rindu yang berang
Tiza FitriziaSutherland, 12.9.11
10.9.11
Hati versus Jazad
bersila di atas permadani merah
sosok renta tempatnya bertahta mulai begah
tak lagi dapat memenuhi inginnya
pasrah dan sibuk dengan gerakannya sendiri
lalu kadang sejenak berdiri melepas penatnya
berkacak pinggang tanda amarahnya
tak lagi kehendaknya menyata dalam laku
lalu hanya diam tak bergeming sedikitpun
adalah segumpal daging
yang menanggung derita karena raga
yang tak lagi kuasa mewujudkan inginnya
hingga jazad tak lagi punya arti apa-apa
Bye:
uak Sena
sosok renta tempatnya bertahta mulai begah
tak lagi dapat memenuhi inginnya
pasrah dan sibuk dengan gerakannya sendiri
lalu kadang sejenak berdiri melepas penatnya
berkacak pinggang tanda amarahnya
tak lagi kehendaknya menyata dalam laku
lalu hanya diam tak bergeming sedikitpun
adalah segumpal daging
yang menanggung derita karena raga
yang tak lagi kuasa mewujudkan inginnya
hingga jazad tak lagi punya arti apa-apa
Bye:
uak Sena
~Perih doadoa_
Pada luka yang kuraba, maka tak juga ku menahan air mata sayang…
rupanya bayangan daun rebah dan kita saling berlayar sendirian
di kepit pada daerah perbatasan yang bernama ramadhan
jerit juga harapan telah mengambang menutup semua peristiwa ,
keterpaksaan pun mengarung disela lahir dan mati.
pada sela malam-malam tumbang, dan pekan-pekan waktu khusyu ini,
berkeras kita nikahi: aku belajar duduk, mencerna juga
bersila.masih....perih doadoa kurapal, sayang…
Dan malammalam melingkar, boleh jadi aku masih meraba luka ini, dan
seperti melipat parasut tempat tanah rata menempa kaki, slalu saja begini : kita terus di bumi dengan selokan bau juga dengan katakata maaf tiada henti.
ya Allah...dipintumu kuberdiri malu
-----------------------------------------------------
Bye: Sang BAco
maros ramadhan 2011. dari >
Langganan:
Postingan (Atom)




