Tampilkan postingan dengan label Puisi Patah Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Patah Hati. Tampilkan semua postingan

29.4.12

Entahlah

Kapan saatnya tiba
Entahlah
Gemuruh rasa mendulang senja
Mengharap asa bersua nyata
Tapi diam tetap dan bisu
Meski rafal doa mengalir deras

Aku dan cinta
Dalam bingkai retak
Menggaris gambarmu tanpa senyum

Uak.

10.12.11

nelangsa

selendang sutra tak berwarna warni
putih hanya warnamu di leher
terbang menyapu wajahku ujungnya
membuat bulukudukku berdiri
inginkan lebih dari sekedar selendang
yang menyapu dan membelai wajahku
yang kuyup bermandi air mata
penyesalan akan diri yang tersia sia
tanpa cinta karena kepergianmu
mentaripun sudah lagi tak mengakrabi diri
yang berkemul dibalik selimut benci
pada diri yang membiarkanmu bersedih
adakah sinar penyejuk hatiku tak lagi engkau punya
hingga hati nelangsa begini

10.9.11

Jangann Marah

amarah lautan memang menakutkan
saat air laut meluap,
tak satupun yang disisakannya

Amarah Api memang menakutkan
saat tersulut berkobar
semuanya tinggal abu

Amarah gunung berapi memang menakutkan
saat laharnya dimuntahkan
semuanya akan disapunya rata

Amarah angin memang menakutkan
saat hembusan tornado
semuanya akan diterbangkan bagaikan kapas

Tapi amarahmu melebihi semuanya
saat nafsumu bergolak semuanya berakhir pada kehancuran

bye:
uak sena

9.9.11

Saat Lelahku tak Terbendung Lagi

bara yang tak bisa kupadamkan
seperti kebencian menyelimuti hati
yang menampung semua hal
tentang kekalutan pada sisi hatiku
yang karang dan tak sanggup kujabarkan pada semua orang
yang telah mbuatku binasa akan kata yang dia toreh pada klembutan hati
ragaku tak lagi seimbang
melayang tuk melenyapkan keganasan
yang menjadi biduk kehancuranku aku
seperti berada pada ujung dunia
yang menunggu kehancuran datang mejemputku
karena lelahku tak lagi bisa lagi kubendung

Bye.
Wati Gaffar