19.9.11

Ramadhan

Menyambutmu dengan derai air mata
bukan karena berat menerima
tapi dosa dan keangkuhanku membatu
sedang menjelangmu mesti bening melebihi bunga-bunga salju

Menyambutmu, begitu cemas
batinku gelisah, menjerit,.....menangis,
remuk di sudut malam, sepi,...sunyi
tanpa bintang, gelap,.....hampa !

Di sini, tanpa daya sekalipun
tangisku pecah, membentur  lorong-lorong kota
lalu gema mengembalikannya,
sungguh tiada arti apa-apa

Ramadhan
maafkan aku,  menyambutmu dengan air mata.

by Titipan Langit
Warkop Dg Te'na, 26 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar