10.9.11

Resahku saat Sendiri Tertiup Angin

malam tak lagi menawarkan ketenangan
riuh suara-suara lalu lalang
diemperan toko lelap saja pengemis jalanan
meski deru mesin bergantian melintas dilubang telinganya

pada belahan bumi lain
tetaplan hening menikmatinya
hiburan sepoi desiran angin menghanyutkan
melenakan raga dan jiwa pada bibir kematian

disini di hati anak-anak negeri yang terjajah
menganga pertanda habis siasat pada hidup
bertanya pada penghujung malam
bagaimana esok hari menyambung hidup


Bye: uak Sena

Tidak ada komentar:

Posting Komentar